Class Meeting Short Course Vol. 4

Show & Tell: Pengenalan Kuratorial dalam Narasi Koleksi

Ini adalah video presentasi kerja dari Kelas Kuratorial Koleksi dengan tutor Farah Wardani. Kompilasi presentasi hasil proses selama 3 bulan dari sejumlah sesi di Gudskul, jalan-jalan ke museum dan online class. Para peserta menarasikan sendiri refleksinya atas dua project yaitu membuat narasi koleksi personal, dan narasi koleksi karya seni. Tadinya kelas sudah mempersiapkan pameran dan performance lecture untuk presentasi kerja ini, tapi karena terhalang karantina, maka dihadirkan video ini untuk tetap berbagi.

Peserta
Yasmin Tri Aryani – Leka Redha Putra – Shera Armeina – Retha Dungga – Danya Adhalia Sjadzali – Okky Ardya – Ika Yuliana – Zarani

PHOTO BOOK PROJECT

THE SECRET AGENTS

Shortcourse fotografi kali ini mengajak peserta untuk mengerjakan karya fotografi seri dengan gaya masing-masing, dengan tema “Time” (Waktu). Semua karya peserta lalu akan dirangkum dalam bentuk sebuah buku foto. Kelas fotografi di Gudskul Shortcourse akan selalu mencoba memberikan pengalaman baru bagi para peserta dengan cara melakukan sebuah proyek bersama yang pada akhirnya berupa bentuk fisik seperti buku foto, zine, dsb.

Peserta
Puti Cinintya Arie Safitri – Gabintang Sabrin Iswal – Ahmad Hilal – Amalia Fadilla – Lilu Herlambang  – Janette Rouli A Sianturi

 


Pameran Senirupa_Proses Satu Jam ‘ Dirumah Aja’

Arman Arief Rachman

Praktek Manajemen Produksi Pameran dengan semua potensi yg ada di rumah / kos-kosan. Lokasi ini dipilih karena dirasa yang paling aman dengan kondisi BDR masa pandemi covid 19.

Peserta:
Gusmarian – Kariim Saad – Calvin Rudolph – Yohanes Pangaribuan – Daniel Windriatmoko – M Aryo Bimo Susanto – Satrio Andito

 



Daniel Windriatmoko


Yohanes Pangaribuan



Showcase – Poster Infografik Art Handling

Pengajar : Arief ‘Atto’ Widiarso

Showcase dari Short Course #5 menampilkan ilustrasi dalam bentuk poster infografik dari setiap peserta SC.
Mereka masing2 menampilkan poster tentang pengalaman Art Handling yang selama 2 bulan ini sudah di pelajari.

 

Calvin Rudolph

Kariim Saad

Pandemic Romantic

Jimi Multhazam

Kelas lirik merespon situasi pandemi covid 19 menjadi sebuah lagu. Lalu dikembangkan menjadi kompilasi

Peserta:
Yogi Polii
Gabriella Avendri
Andzar Fauzan Hakim
Abe Lubis
Sayyid Arif Kurniawan
Atthareq Febriansyah
Ikrar Raksaperdana

LIRIK

Abe Lubis
PATRIOT PUTIH

Tangan terbungkus plastik
Bersimbah peluh sekujur tubuh
Membopong badan yang meronta
Dari siluet kacamata yang benderang
Rongga hidung mereka terpasang selang
Kau bawa mereka menuju lega
Pertaruhan suhu tubuh lekas menang
Walau beberapa kalah perang
Tetap temani mereka saat jarak terbentang
Penghuni rumah kerap mendoa
Menanti sorak sorai lagi
Harapan pada jas putih itu
Menanti sorak sorai lagi
Baris depan pun berjuang
Pagar rumah tinggi menjulang
Baris depan pun menerjang
Kemenangan menanti bersulang

Andzar Fauzan Hakim
PUTAR ARAH SEKARANG

Motorbike kupacu dijalanan
Revisian guru besar di tas andalan
Jaket jeans robekan ku kenakan
Berkibar di kebisuan jalan

Terminal ku lihat tak ada orang
Hingga damri pun tak ada penumpang
Fokus ku tetap ke tujuan awal
Bumi siliwangi di depan bola mata

Tampak pria berseragam menghadang
Parasnya antagonis menakutkan
Suaranya lugas menggelegar
Menyuruhku pulang dan dia menyuarakan

Wabah wuhan
Putar arah sekarang

Aktivitas manusia tenggelam
Semua dirumahkan tak ada yang keluar
Fokus ku tetap ke tujuan awal
Bumi siliwangi di depan bola mata

 

Atthareq Febriansyah
PSIKOSOMATIK ( Diam Mencekam )

Intro
V.O ( Dia datang 4x, Mereka datang 4x )

Vers 1
Jatung berdebar,
kepala terasa ingin berputar.
Timbul pula hujan keringat,
bernafas dengan begitu cepat.

(Instrument)

Reff
Semakin mencekam, selalu dibuat geram. Datang tak diundang, pulang.

Vers 2
Tak kuasa menahan keram,
bergetar kehilangan arah.
Sering dibuatnya gelisah, namun selalu saja di bungkam.

Reff
Semakin mencekam, selalu dibuat geram. Datang tak diundang, pulang. (2x)

Outtro
V.O (Dibuatnya gelisah, Dibuatnya berputar, Dibuatnya bergetar, Dibuatnya berdarah)

 

Gabriella Avendri
HARI HARI

aku dan kasurku melekat
hingga malam berlalu
jam dindingku apa gunamu?
ini malam minggu
terbayang tiga minggu lalu
saat bersama kamu bercengkrama
halo lalu lintas, kemacetan
apa kabar?
halo matahari & polusi
tak kusangka aku rindu

 

Ikrar Raksaperdana
PERORATION

Sadarku acuh
Akan kebisingan semua
Kita berada

Di antara jerat hidup dan mati
Inikah akhirnya?
Dan
Kuberikan pesan
Untuk kematian kita 6x
Inikah akhirnya?
Mataku kembali terbuka
Kini dalam ruang yang gelap
Sahut-sahut mulai menghilang
Kini dalam ruang yang gelap
Inikah akhirnya!?
Inikah akhirnya!?

 

Sayyid Arif Kurniawan
INTELLECTUALS

Para Intelektual
Asumsi Jalanan
Nada Penolongan (Shit)
Mainkan Akal Orang

Berikan gambaran sebrang pandang
(Are we really playing that shit ?)
Kaca terang

Intellectuals, You should know How.

 

Yogi Polii
PANDEMIC INCOME TRAP

Lagu ini untuk dia yang pernah datang lalu pergi dan datang lagi kemudian pergi lagi. (tapi bohong)
Ini bukan krisis tapi ini chaos
pandemi buat orang jadi berspekulasi
7 milyar manusia sekian persen terinfeksi
semua hooman dilarang keluar rumah
bagi sebagian orang ini bunuh diri
didalam mati diluar gak kalah ngeri
ribuan tahanan dikeluarkan dari penjara
kriminalitas tak bisa dibendung lagi
Pakar ekonomi yang pandai memprediksi saat ini hanya jadi seonggok daging yang tidak bergizi
semua orang sudah mulai mencurigai
aktivis goblok cuma bisa basa basi
layaknya aurelie yang cantik tapi makan tai
relawan bikin sumbangan masih saja dicacimaki padahal mereka sudah cegah rakyat hampir bunuh diri
kaum bumi datar kaum sumbu pendek
kemanakah kalian yang hanya suka meledek
pakai baju tak pakai celana
kalian tak lebih dari seekor donal bebek
seekor singa terkurung terperangkap dalam ragunan tidak akan mengubahnya menjadi seekor kocheeng
gokil gokil gorila dekil
ini lirik kubuat untuk hiburan ku sendiri
diksi demi diksi lala dan po
tinkiwingki walaw fiksi tapi tetap bisa menghibur
diputus kontrak gabisa kemana mana
alasan korona bukan cuma anda saja
work from home work from jupiter
gabisa move on minum arak satu liter
Tobat Tobat sekali lagi
impresi & invoice ditunda sampai nanti
plagiat template anak ahensi mulai lagi
goreng goreng isu demi sebuah indomie
pok ame ame belalang kupu kupu
siang makan nasi kalo malem anxiety
Dear Para peminpin
Kami mulai pusing sampai kapan negriku kan seperti ini
Dulu berkarya berani berhutang
Sehingga incometrap tak bisa terhindari
yow sekali lagi agar sublibinal tertanam dalam benak dan selalu menghantui demi popularitas goreng sperma sendiri
tapi ini mending dari pada kalian bertamengkan oknum untuk melindungi seragam.
gila sudah ku tak mau ditangkap polisi
Aku akan menaklukan dunia kupinjam tangan mu untuk diriku sendiri akulah sang pemimpi

MATCH CUT

ARi DINA KRESTIAWAN

Match Cut merupakan potongan gambar yang disambungkan dengan gambar berikutnya dengan menggunakan logika adegan yang berkesinambungan. Dalam showcase short course mengulik sudut pandang ini para peserta bersama-sama mengajak kita untuk melihat bagaimana di saat kondisi yang berjauhan karena mengalami masa Physical Distancing akibat dari Pandemi Corona, tidak bertemu muka, mereka masih mampu berkarya secara bersama. Melalu medium video dan editing.

Selain itu, para peserta juga akan menunjukkan proses proses eksplorasi mereka atas ruang-ruang di sekitar mereka dengan bentuk bentuk formal seperti garis dan berusaha menemukan detail-detail lain dalam keseharian mereka.

Peserta:
Reynard Radithya Aydin
Muhammad Amirruddin
Rommy Yudhistira
Imam Ayituri Primadi

Match Cut merupakan potongan gambar yang disambungkan dengan gambar berikutnya dengan menggunakan logika adegan yang berkesinambungan. Dalam showcase short course mengulik sudut pandang ini para peserta bersama-sama mengajak kita untuk melihat bagaimana di saat kondisi yang berjauhan karena mengalami masa Physical Distancing akibat dari Pandemi Corona, tidak bertemu muka, mereka masih mampu berkarya secara bersama. Melalu medium video dan editing.

MeRetas Batas

Fenomena ‘Batas’ seringkali muncul dalam konteks progresi suatu entitas yang terhalang oleh bentuk limitasi eksternal maupun internal yang menghambat entitas tersebut untuk memanifestasikan Evolusi dirinya. Energi dan bahkan jagad semesta raya ini memiliki pola kesamaan untuk selalu melakukan ekspansi dari keadaan sebelumnya. Ketika proses ekspansi tersebut dibatasi oleh faktor obsolet (usang) yang menghalangi tumbuh kembangnya, maka batas itu harus ‘dihancurkan’. Sejatinya, “Batas” selalu netral. Entitas tersebut lah yang harus memutuskan, apakah Batas tersebut adalah faktor penghambat negatif, atau berkembang menjadi solusi positif untuk kepentingan yang lebih besar. Ketika itu lah, esensi sejati ‘Desain’ terjawab. Bahwa hakikat desain terjadi sebagai bentuk solusi dari problema yang ada (problem solving). Termasuk di dalam rancang busana (fesyen). Dalam The Fashion System, Barthes menjabarkan bahwa fesyen terjadi sebagai respon dari konteks masyarakat.

Berdasarkan itu, enam orang peserta yang mengikuti dua bulan Short Course Fashion Branding & Identity di Gudskul, memperlakukan brand yang mereka telurkan sebagai solusi problema sehari-hari yang menjadi batasan masing-masing. Konteks era pandemi, daur ulang barang bekas, pengolahan sampah rumah tangga, pencarian jati diri, penyembuhan luka batin, hingga pelabelan maskulinitas merupakan batasan yang dirasa perlu untuk dijawab oleh seluruh peserta yang masing-masing tidak memiliki latar belakang pendidikan fesyen sebelumnya. Yang pasti, peserta melakukan aksi solutif untuk menyiasati batasan, sehingga sanggup menciptakan jalan untuk meretas dan memanifestasi, wujud ‘baru”’ mereka yang (semoga) lebih baik. Dari hati kami yang terdalam, untuk Gudskul dan masyarakat yang berjuang menembus ‘Batas’.

Sebuah Tribut, untuk Manifestasi.

Peserta:
Monika Fransiska – Ruth Priscilla – Diah Kusumawardani – Bethany Burton – Amelia Vindy – Sandi


#iwearyourwaste
by Diah Kusumawardani

Diah Kusumawardani lahir di Tangerang 25 tahun yang lalu. Merupakan lulusan jurusan Kriya Tekstil salah satu Institut Seni di Jakarta. Saat ini Diah aktif sebagai pengajar dan kriyawan kriya tekstil penuh waktu yang sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. karya-karyanya merupakan visualisasi dari keseharian dan pengalaman pribadi. Sejak dibangku perkuliahan, ia menjadi craftpreneur dengan membuat label produk kriya bernama Kusuma Craft.

Masalah sampah dan limbah produksi mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para masyarakat yang tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta. Mayoritas sampah yang dihasilkan adalah sampah organik yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan usaha kuliner.
Tingginya perilaku antipati masyarakat terhadap masalah sampah di kota besar dan minimnya pengolahan sampah yang komperhensif membuat masalah yang ditimbulkan sampah semakin banyak, seperti timbulnya ragam penyakit, kemerosotan kualitas lingkungan hidup perkotaan dan pemanasan global sebagai muaranya. Menyadari bahwa perlu adanya pengelolaan sampah yang cerdas, pengomposan serta usaha mendaur ulang sampah secara bijak dan sederhana dapat menjadi cara pengurangan beban limbah di lingkungan.

#iwearyourwaste adalah sebuah proyek pemanfaatan limbah usaha kuliner sebagai alternatif pewarna untuk tekstil yang diinisiasi oleh Diah Kusumawardani bersama brand Kusuma Craft sejak tahun 2019 di Jakarta. #iwearyourwaste mempunya visi untuk memproduksi produk tekstil ramah lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam karya #iwearyourwaste yang berjudul “Asmara Bhumi Asmirah”, pewarna tekstil berasal dari proses pemanfaatan limbah organik seperti ampas kopi, kulit bawang dan kulit buah alpukat dari beberapa usaha kuliner yang berdomisili di Jakarta. Sebagai sebuah kampanye, melalui kegiatan edukasi lokakarya akhir pekan #iwearyourwaste mengajak masyarakat luas untuk dapat memanfaatkan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai estetis, daya jual dan menjawab masalah limbah yang ada di lingkungan masing-masing.


 


LAKI
by Sandi

Selain berprofesi sebagai video editor, Arysandi Putu Pratama juga menggemari fotografi fashion & beauty.

Setiap manusia, laki-laki dan perempuan memiliki perasaan yang setara, seperti sedih, senang, bahagia, kecewa dan perasaan tidak percaya diri atau Insecurity. Masyarakat sering kali membuat standar atau Stereotip untuk menentukan kecantikan perempuan atau kegagahan laki-laki, yang menyebabkan karakter fisik di bawah standar tersebut dianggap tidak ideal.

Prinsip ini yang menjadi landasan fenomena perudungan fisik / Body Shaming.

Tindakan Body Shaming dan penilaian Stereotip ini melahirkan rasa Insecurity pada perempuan atau laki-laki yang merasa mereka tidak sesuai standar penampilan fisik yang dianggap menarik. Tapi patut dicatat, tidak hanya kaum perempuan saja yang mengalami Insecurity dan tindakan Body Shaming. Laki-laki pun selama ini mengalami hal yang sama. Terutama pada batasan berpenampilan, karena stigma konvensional masyarakat terhadap bagaimana laki-laki seharusnya berpenampilan pun, sangat dogmatis dan kadang penuh penilaian. Seperti halnya laki-laki harus memiliki badan besar, kekar, berkulit bersih, paras tampan, tinggi dan sebagainya. Hal ini pun berdampak pada stigma sikap yang ‘laki-laki banget’ atau tidak. Kata-kata “Laki-laki tidak boleh menangis, harus kuat” disematkan sedari kecil.

Apakah laki-laki tidak berhak untuk rapuh? Apa ketika laki-laki menangis, artinya dia bukan laki-laki kuat? Apa ketika laki-laki mengenakan pakaian feminin, artinya dia bukan laki-laki lagi? Apakah dengan berpenampilan jantan, maskulin dan kuat, maka dia baru diakui “kelaki-lakiannya”

Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, pun memiliki aura / kharisma personal yang membuat daya tarik tersendiri.
Brand ini bertujuan agar para laki-laki khususnya di Indonesia bisa lebih percaya diri dan berhak mengekspresikan dirinya atas apa yang telah diberikan Tuhan terhadap tubuh dan jati diri sebenarnya.

Tiap laki-laki berhak menjadi laki-laki, Dengan cara mereka sendiri.

 


MamoLab
by Bethany Burton

Bethany was born within the borders of what was known as the United States, thirty years before the new era of terror. She is a student of movement and dance and teaches artistic swimming. Bethany holds a BFA in studio art and is the founder of MamoLab. She’s currently based in a tiny territory at the southern edge of Jakarta, before the land of Depok.


There is no collective memory of the 21st century.
MamoLab is a hive of researchers living in the next epoch, who have set out to piece together an untold history of the planet. Through artifacts such as fashion waste, they begin to unveil collective memoirs of the 21st century— when climate catastrophes sent civilization into a post-fast-fashion-consumption era.

Inspired by the Atomic Age of the 1960’s and the 90’s underground biotechnological revolution, Mamo’s lab deconstructs collected material waste to respond to crisis driven needs. Mamo’s shop utilizes the barter system to trade the lab’s one-off garments for unwanted material or donations sent directly to mutual aid initiatives.


 


Rangkai
by Amelia Vindy

Setelah dapat gelar sarjana di bidang komunikasi, lanjut jadi jurnalis di media online selama 3 tahun, lalu sekarang mencoba peruntungan di dunia fesyenista dengan menjadi fashion stylist. Tetep lusuh, otw trendy.

Salam Kenal!
Proyek ini diawali dari kegemaran gue membeli baju bekas (thrifting) – lantaran gak mau pake baju yang sama dengan orang lain – yang ternyata hal itu justru mengantarkan gue kepada sesuatu yang lebih dari sekedar ingin tampil beda. Siapa sangka dengan membeli baju bekas ternyata secara gak langsung kita turut mengumpulkan dan memperpanjang sebuah sejarah. Gak ada yang tau kan awalnya baju itu dipakai oleh siapa, dipakai kemana, dipakai sejak kapan dan kenapa mereka bisa berujung di pasar loak? Gak cuma itu, masih ada banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dari sanalah gue berpikiran untuk mengumpulkan memori dari baju-baju yang sudah berakhir ditumpukan lemari atau bahkan dilupakan, yang kemudian gue olah kembali menjadi suatu bentuk yang baru. Tujuannya, selain untuk memperpanjang umur pakaiannya (tentunya) tapi juga untuk melihat sejauh mana pemakainya mengartikan fungsi dari pakaian itu sendiri. Karena fungsi pakaian itu gak berhenti hanya sebagai pelindung tubuh, tapi bisa jadi lebih luas dari itu.

BTW, thrift sendiri selain artinya adalah bijaksana dalam menggunakan uang dan menghindari pemborosan, juga merupakan nama bunga yang berbentuk seperti bola kecil berwarna merah muda. Bentuk bola tersebut terbentuk dari kumpulan bunga-bunga kecil di ujung atas tangkainya. #FYI

Apa itu Rangkai?
Rangkai adalah sebuah proyek arsip, yang menggunakan pakaian sebagai medium berkarya dan upcycling sebagai teknik pembuatan karya. Rangkai sendiri artinya adalah hubungan beberapa benda. Dalam konteks karya, gue mencoba untuk memperpanjang umur pakaian, dengan cara menyatukan beberapa pakaian yang memiliki cerita tertentu untuk memperbarui bentuk asli/awal pakaian tersebut. Gak berhenti sampai disitu, cerita-cerita dari pakaian tersebut juga akan turut diarsipkan atau disatukan ke dalam sebuah zine.

Bentuk simbol yang ada di atas huruf “i” pada akhiran kata Rangkai sendiri terinspirasi dari bentuk bunga Sea Thrift yang di rasa selaras dengan visi dari proyek ini. Kelopak bunga Sea Thrift diibaratkan sebagai kumpulan cerita dari pakaian-pakaian yang ada, dan kemudian membentuk bulatan pada bunganya yang menggambarkan bentuk baru dari pakaian yang telah di upcycling.

Harapannya lewat proyek arsip ini, banyak orang yang tergerak untuk melihat kembali isi lemari mereka dan mulai berkreasi dengan baju yang ada demi mengurangi limbah yang dihasilkan dari pakaian. Karena sebenarnya ketimbang membeli baju hanya menambah jumlah pakaian di rumah, lebih baik menghadirkan bentuk baru – dan satu-satunya – dari yang sudah ada.

Rangkaian #1; Memori Patah Hati
Pada proyek pertama Rangkai, gue mengumpulkan baju dengan memori patah hati dibelakangnya. Kalau biasanya patah hati seringkali digambarkan dengan visual yang gloomy dan cenderung gelap, gue penasaran bagaimana kalau menggambarkannya ungkapan atau perasaan tersebut lewat pakaian.

Gue membuka open submission lewat Instagram personal, dan mendapatkan 12 kiriman cerita, yang kemudian gue kurasi menjadi 7 cerita terpilih. Adapun poin kurasi yang gue tetapkan adalah jenis barangnya dan kegunaannya. Apakah masih dipergunakan? Dan bersediakah untuk disumbangkan? Dalam kata lain gak akan menerima kembali baju yang sudah diberikan kepada gue.

Deretan Memori
Disini gue memamerkan bentuk baju asli beserta kutipan cerita tentang pakaian yang mereka berikan lewat open submission di Instagram.

 


RudeRuth
by Ruth Priscilla

Ruth Priscilla Riberu – Hutubessy. Lahir di Surabaya, 7.12.1984. Lulusan S1 ilmu komunikasi yang tak pernah belajar design atau fashion secara akademik. Pindah ke Jakarta sejak 2016, mengikuti suami. Bekerja dijalur musik dan fashion (RudeRuth). Merintis RudeRuth sejak lama, namun bisa dikatakan resminya memakai nama label ini sejak 2012.

Semua dimulai dari kecintaan saya terhadap handcraft, design, dan warna serta diperlengkapi warisan skill crafting dari Mama dan Oma. Lahir dan besar dalam perpaduan beragam suku serta kagum akan tradisi dan handcraft dari kota/pulau di Indonesia yang saya kunjungi pun menjadi akar dari setiap karya RudeRuth. Dan karena setiap karya bagaikan seorang anak, maka menyematkan nama sendiri dalam label adalah pertanda bahwa RudeRuth adalah buah cinta dan mimpi saya. Mulai percaya diri memakai nama RudeRuth sejak 2012, di kota Surabaya, kampung halaman saya.

RudeRuth adalah dua kata yang bersatu dalam rima, memiliki dua makna yang bertolak belakang bagaikan Yin dan Yang, namun sejatinya saling menyeimbangkan. Logo RudeRuth berdasarkan kecintaan saya pada dedaunan dan bunga, terutama bunga Matahari. Bunga Matahari yang setiap bagian tubuhnya bermanfaat digambarkan abstrak dan memiliki jantung anak daun pertanda tumbuh, hidup, harapan. Warna warna pastel yang dipilih pun bertolak belakang dengan daun dan bunga di kehidupan nyata namun menyeimbangkan karya RudeRuth yang mayoritas berwarna vibrant.

RudeRuth berdiri sebagai small business berkaca dari Mama saya yang berkarya dan bekerja dari rumah sembari menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga. Karena itu terpikir untuk memperluas lingkup kerja, selain memproduksi karya sendiri, saya bekerjasama dengan beberapa artisan daerah yang memang bekerja dari rumah atau comfort zone sembari menjalankan perannya dirumah. Tujuannya untuk mempertahankan dan mengangkat warisan budaya, yaitu wastra Indonesia dan kerajinan kriya yang dibuat secara handcraft di mata bangsa sendiri, melebarkan pasarnya di luar Indonesia dan akhirnya memperbaiki perekonomian artisan.

Pada perkembangannya, RudeRuth berusaha berkarya dengan tetap menjaga lingkungan dengan memilih material yang ecofriendly, seperti benang yang 100% cotton, serta mengolah kembali limbah kami menjadi karya baru. RudeRuth juga berusaha merutinkan kembali workshop handcraft ataupun visitasi ke artisan daerah agar warisan ini terpelihara dan diturunkan ke generasi berikutnya.



 


titik jeda
by Monika Fransiska

Lahir di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. Fisioterapis. Februari 2020 mengikuti short course Fashion Branding & Identity vol. 4 di Gudskul

Menjalani hidup saat ini, begitu cepat, seperti dikejar, kita terburu-buru, terkadang memaksakan kehendak, melawan kemampuan tubuh, mencoba bertahan sampai kita lupa untuk hidup dan menikmati saat ini.

Kita butuh berhenti sejenak.

Pesan ini saya coba sampaikan lewat kain yang diwarnai dengan pewarna alami, memberikan kesan hangat, motif titik dan garis memberikan kesan tenang. Berharap, kain yang kita pakai dapat menyampaikan pesan kepada jiwa kita, untuk berhenti sejenak.

Kawin paksa: Gudskul x bauhaus

Farid Rakun

Yang Anda lihat di sini adalah hasil dari percobaan menghubung-hubungkan hal-hal yang tadinya tak kelihatan nyambung.

Ketika Gudskul bertemu bauhaus. Perkawinan paksa macam ini ternyata memang bisa menghasilkan turunan-turunan ajaib.

Apa hubungan Paul Klee dan art therapy? Lalu Ernst Neufert dan RPTRA, atau bahkan Hannes Meyer dan SJW?

Nikmatilah perbincangan-perbincangan tentang hubungan-hubungan tak terduga ini bersama Keke Tumbuan, Rifqi Hadyan Damas dan Ratih Ardianti. Semoga Anda terpukau.

Peserta

  1. Ratih Ardianti (raditi)
  2. Rifqi Hadyan Damas
  3. Keke Tumbuan
  4. Taufan Adryan

 

 

 Rifqi Hadyan Damas


 

Keke Tumbuan


 

Raditi

Skenario: Sebuah Pengenalan

Prima Rusdi   

Pengenalan pada  penulisan singkat gagasan cerita menjadi sinopsis pendek, sebelum sebuah skenario bisa ditulis/dikembangkan.

Peserta:
Tasya P. Maulana
Dhina Mutiara Kartikasari
Pieter Hans P. Siregar
Indira Prana Ning Dyah
Misbahuddin Nika

HOOMAN ZOO

Hauritsa

Pandemi covid-19 memaksa pemerintah membuat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang salah satu efeknya adalah membuat orang-orang beraktifitas di rumah masing-masing. dengan tidak kemana-mana. Dan bekerja di rumah diperkirakan dapat memutuskan rantai penyebaran virus covid-19.

Latarbelakang ini membuat Kelas Pemetaan Visual melakukan sedikit riset tentang tidak kemana-mana dan bekerja di rumah atau seperti media sosial sebutkan #stayhome berdasarkan fokus masing-masing interest dan pengalaman pribadi.

Kelas ini berfokus pada pengembangan visual antara lain; arsitektur, bakteria, herbal dan meme, dan mencoba memetakannya dalam sebuah project berjudul ‘Hooman Zoo’.

Hooman Zoo adalah cara melihat kelas pemetaan visual terhadap pembatasan yang mengharuskan orang-orang tidak kemana-mana dan hanya beraktifitas di dalam rumah.

Peserta
Duta Adipati
Ahmad Hilal
Fikri Haikal 
Yasmin Tri Aryani

 

Dasar-Dasar Video Jockey

Nissal Berlindung

Kelas pengenalan dasar menjadi video jokey, akhirya menjadi sebuah project yang merespon tentang himbauan STAY SAFE, STAY HOME

Harisuddin Hawali

FINE TODAY
Sebuah sajian visual yang mewakili perasaan: gelisah, tidak tenang, gundah, ditambah dengan pandemi virus impor made in china yang sedang naik daun ini, membuat pikiran
semakin menjadi tak terarah. Kita akan melihat isi kepala yang bercampur baur dengan perasaan abstrak. Dituangkan dalam bentuk visual layaknya efek-efek psychedelic. Diiringi dengan lantunan music menenangkan dari Tame Impala. Today will be fine, Fine Today.
STAY SAFE, STAY HOME

Pengennya Publik tapi di Rumah Aja

Pengajar: KKK (Angga Wijaya, Ayos Purwoaji, Rifandi Nugroho, Ignatius Adi Wibowo, Ismal Muntaha, M. Rifqi Fajri, Gesyada Namora) 

 

Peserta kelas ini terdiri dari dua orang, satu berlatar belakang sebagai mahasiswa jurusan fashion design satu lagi penulis. Masing-masing peserta menginterpretasikan proses belajar sesuai dengan minat dan ketertarikan mereka masing-masing, mengaitkannya pada pemahaman akan spektrum ruang publik yang telah diberikan selama di kelas.

Bunga Manggiasih tertarik mengulas praktik seni ruang publik yang semakin lentur, berdasarkan referensi dari kelas dan pengalaman beraktivitas di Sekretariat Koalisi Seni.

Bunga membuat zine yang memuat potret mini pergeseran orientasi perkembangan seni ruang publik di Indonesia. Kalau dulu fokus gagasannya terpaku pada objek dan tempat, seni ruang publik berkembang menjadi waktu dan peristiwa, lantas menjadi praktik sehari-hari. Dari obrolan dengan warga Kampung Sawah Baru dan cerita para kurator dalam KKK, Bunga juga menuliskan cara seni ruang publik hadir dalam negosiasi dan siasat warga. Zine diakhiri dengan tulisan — atau lebih tepatnya, pertanyaan — soal nasib seni ruang publik saat pandemi COVID-19.

Angel, sebagai seorang mahasiswa fashion design, tidak berkutik di dalam kosannya ketika berhadapan dengan virus corona. Keadaan itu membuat ia bigung dan akhirnya memilih untuk menjahit saja. Ruang publik bagi Angel pada akhirnya tereduksi seluas kamar kos dan mesin jahit saja. Meski demikian, dalam kesehariannya, sebagai mahasiswa yang #dirumahaja, Angel juga perlu berinteraksi dengan penjual makanan, demi menjaga asupan nutrisi. Oleh karena itu, Angel merasa berterima kasih kepada mereka, membagikan masker dan berinteraksi melalui kata-kata.

Sasaran bagi-bagi masker gratis Angel adalah untuk membantu menjaga kesehatan bersama. Mereka dipilih karena mereka adalah orang orang yang paling sering angel temui dalam kegiatan sehari-hari sebelum pandemi ini. Dan juga angel berniat melakukan interaksi sosial walaupun sebatas membagikan masker dan tidak hanya jadi penonton saja.

 

Peserta:
Bunga Manggiasih
Angel Roberta Lawa

 

Angel Roberta Lawa

Bunga Manggiasih

Iniar Bang Bukan Sembarang Barang

Moch Hasrul

Membuat barang-barang ajayib yang interaktip dan juoss broot

Abenk Alter
Rayneldis Richard T
Mohammad Aldino

 

Aldino



Abenk Alter



Rayneldis Richard Tandirerung



Taktik Pergerakan Goreng-Gorengan Dunia Maya

Pengajar: Yogi Polii, Reza Waluyo Jati Bahar, Lulus Gita Samudra

Beberapa Proposal strategi yang akan dipamerkan di Website gudskul serta satu penampilan musik dari Riani di instagram gudskul

Peserta
Diana S Nugroho
Annisaa Ramadhanty (asha)
Putri Ayu Lestari
Joel Joachim
Riani Sovana Soedjais

 

Putri Ayu Lestari

Diana S Nugroho



Riani Sovana Soedjais

Annisaa Ramadhanty (asha)

IG Takeover:
Rabu, 22 April 2020

Harapan di Kegelapan: Musik bersama Riani Sovana & Tara Dethouars 

Musik
20.00 -20.30 WIB

Talkshow
jam 20.30-21.00 WIB



 

Arani Aslama @araniaslama

 


Asheila Amara @@sheilaart_

 


Dandy Radiant @dandyradiant

 


Dwi Setu Aji (Jasno) @jasnothing

 


Mia Andika Sri Az Zahra @miaasazzahra

 


Cassandra Nadia @naddoodle


Annisaa Ramadhanty

 


Ruth Kartika Chandra Rini @utetika

 


Safira Ryanatami @safiryaa

 


Tahang @tahang

Rusak Tersusun

Grafis Huru Hara

Kelas experimental printmaking yang telah berjalan sejak beberapa bulan yang lalu ini mengajak pesertanya untuk berkarya dengan beberapa jenis teknik cetak yang kurang umum dimasyarakat atau bahkan alternatif, diantaranya: relief print / collaprint, sablon dengan oil pastel dan tetrapak printing.

Guna merangkum hasil pembelajaran tersebut, para peserta saling membuat cerita fiksi bersambung yang tercampuraduk antara satu dengan yang lain. Narasi yang telah terkumpul tersebut memang sulit untuk dipahami ketika dibaca, namun disinilah eksperimen pencampuran narasi dari berbagai individu dijadikan sebagai acuan dalam tema besar pada penciptaan visual yang nantinya akan dieksekusi kedalam beragam teknik-teknik cetak eksplorasi tersebut, yang tentunya dikerjakan dari rumah selama masa pandemi covid-19.

Peserta:
Duta Adipati – Rifqi Hadyan Damas – Ardani Yusuf Prawira

 


Duta Adipati

 


Ardani Yusuf Prawira

 


Rifqi Hadyan Damas

Cemplungin Jadi Satu

Harlan Boer

Cemplungin Jadi Satu adalah kompilasi tulisan para peserta kelas Creative Writing Gudskul. Masing-masing penulis mengangkat tema spesifik dan menghasilkan beragam tulisan, termasuk karya kolaboratif.

Peserta:
Yoga Caesareka – Sharah C – Diana S. Nugroho – Ajeng Nurul Aini – Broto

 


Memfiksikan Arsip

Memfiksikan Arsip sesungguhnya bukanlah hal yang istimewa. Pasalnya, semua fiksi adalah upaya mencari jalan lain dari realitas aka ‘arsip-arsip’ masa lalu atau pun segala sesuatu di masa kini yang tentunya berpotensi menjadi arsip di masa depan. Namun ketika kita diminta untuk memproduksi sebuah karya dengan metode memfiksikan arsip, hal yang sesungguhnya biasa saja itu menjadi rumit. Kita berbenturan pada pertanyaan-pertanyaan seputar sejarah yang materialnya adalah arsip. Lantas pertanyaan kedua, apakah itu ‘arsip’? kelas Short Course memfiksikan arsip dibuka dengan diskusi-diskusi perihal ini di beberapa pertemuan awal. Lantas, setelah menyepakati beberapa hal dengan tetap sadar bahwa apa yang disepakati itu sangat mungkin bisa dipertanyakan—misalnya kami sepakat bahwa untuk kebutuhan kelas ini kami akan mengakses ‘arsip’ dari lembaga-lembaga rersmi pengarsipan—kami terjun pada praktik.

Kami memulainya dengan menentukan ketertarikan tema dan periodesasi tertentu. Diskusi perihal tema ini cukup seru; setiap peserta memberi masukan dan referensi terhadap tema yang dipilih temannya. Kami pun punya tema dari perihal kelahiran, psikologi massa, pendidikan masa lampau, Penembakan Misterius, hingga novel stensilan. Bersama-sama kami mencari arsip-arsip sesuai dengan tema tersebut di Perpusnas. Di dalam masa berproses itu, pandemic COVID-19 mendatangi kita semua. Beberapa rencana awal dimodifikasi oleh para peserta. Beberapa peserta lainnya mesti beradaptasi dan mengurusi banyak hal seiring adaptasi pada apa yang mulai kerap disebut orang sebagai ‘normalitas-baru’ ini.

Kelas Memfiksikan Arsip mempersembahkan pada Anda cerita pendek “Sepotong Tangan Bertato Bunga Mawar Yang Terjulur Dari Dalam Karung,” stensilan Mencari Enny Arrow, dan buku-foto From the Celebes.
Selamat menikmati
Berto Tukan

Peara Kontributor:
Dicky Zulkarnain menggeluti dunia menulis sejak masa studinya di Program Studi Jepang, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Selama hampir satu dekade, ia pernah bekerja sebagai editor untuk beberapa media nasional seperti majalah Network!, HighEnd, HighEnd Teen dan Esquire. Ia saat ini bekerja di bidang komunikasi dan juga kerap mengerjakan beberapa proyek sebagai penulis lepas. Karya fiksinya pernah dimuat di Media Indonesia, Femina, dan Magdalene.co.

Farhan Rafia yang akrab dipanggil Acil adalah seorang buruh grafis dan budak korporat di Jakarta. Kegemarannya dalam dunia seni rupa dan sastra membuat ia selalu bertanya dan merasa. Ia juga senang mempelajari kosmologi dan metafisik. Baginya, di dunia ini tidak ada yang “kebetulan”.

Ahmad Hilal lahir di Ujung Pandang dan tinggal di Jakarta. Ia adalah seniman visual yang menggunakan fotografi dan performance sebagai mediumnya. Ia meraih Strata 1 di Jurusan Desain Komunikasi Visual dan melanjutkan studi Seni Rupa di salah satu Universitas di Bandung. Ia juga tergabung sebagai kolaborator di Jalur Timur, yaitu sabuah platform kerja kolaborasi yang didirikan pada 2015 oleh aktivis, penulis, periset, dan seniman muda yang berfokus pada urusan sosial, politik, dan kebudayaan kontemporer di Indonesia Timur. Saat ini ia bekerja lepas sebagai videografer dan desainer. Ia kerap memanfaatkan arsip dan dokumentasi di dalam karya-karyanya.


 

 


 

 


SEPOTONG TANGAN BERTATO BUNGA MAWAR YANG TERJULUR DARI DALAM KARUNG
Cerpen Oleh Dicky Zulkarnain

Sesudah mengamati beragam tajuk utama di halaman muka koran Senin, kepala Heru
langsung terasa panas. Tak terlihat berita yang ia kerjakan semalaman dengan susah payah.
Dibukanya kemudian satu-persatu halaman, berharap sang editor menempatkannya di
halaman tengah. Hasilnya tetap nihil. Sebuah artikel pada seksi Metropolitan malah membuat
kekesalan Heru memuncak. Di Jakarta Tak Ada Penembak Misterius, begitu judul berita
yang pada ujung akhirnya dilengkapi inisial nama editornya.
Bangsat! Umpat Heru dalam hati sambil meremas koran. Tak hanya hasil kerja kerasnya
harus berakhir sia-sia, ia tahu betul tulisan editornya itu hanyalah bualan. Kementerian
Penerangan pasti keluar uang lagi untuk editorial pesanan, pikirnya penuh rasa curiga. Ia
sadar cara semacam itulah yang membuat koran tempat kerjanya bisa tetap bertahan. Namun
ia tak bisa mengacuhkan begitu saja ironi yang terus menghantui selama hampir tujuh tahun
kariernya sebagai seorang wartawan. Apa gunanya kerja jurnalistik jika media harus tunduk
pada kekuasaan?


Tiba-tiba wajah kusut Bang Manurung, editor yang biasa menyunting pekerjaannya, muncul
dari balik bilik meja kerja Heru. “Sorry, berita yang kau buat tak jadi masuk. Pak Bos suruh
ganti pakai berita pesanan,” ucapnya singkat sambil kemudian berlalu.
Heru ingin sekali melemparkan koran kusut di tangannya ke tempurung kepala editornya.
Namun ia hanya bisa menghempaskannya ke lantai sambil bersungut-sungut. Ia merasa
kecewa karena tak bisa menepati janjinya kepada Wahyu. Laki-laki kurus dengan panjang
rambut sebahu itu kembali muncul dalam benaknya.
***
Aku selalu tak suka bila Wahyu bertemu Suyanto, kawan lamanya yang sama-sama pernah
bermukim sementara di Lapas Tangerang. Keduanya kerap berbisik-bisik sambil sibuk
mengamati kondisi sekeliling seakan tengah membahas rahasia besar. Seperti itu juga yang
kini terlihat di depan mataku, keduanya bicara di teras Rumah Makan Surya tempat Wahyu
bekerja. Baru ketika salah satu pelayan memanggil, keduanya segera berpisah. Suyanto
berjalan ke arah seberang restoran entah hendak ke mana, Wahyu bergegas membawakan
sepiring mie goreng dan es teh manis ke mejaku.
“Mau apa kawanmu itu datang ke sini?”
“Ndak ada apa-apa kok, Mas,” balas Wahyu singkat seperti biasa kalau aku bertanya tentang
kawannya itu.
“Yu, hati-hati. Aku enggak mau kamu ikut-ikutan bandel lagi sama kawan lamamu itu.”
Wahyu terdiam sambil melemparkan pandangan ke arah luar rumah makan. Kawasan Blok M
siang itu cukup ramai. Orang beragam rupa terlihat berlalu-lalang. Di seberang jalan,
tepat di
depan sebuah toko buku, beberapa anak muda seusia Wahyu terlihat tengah berkerumun
dengan pakaian berwarna mencolok. Dua orang di tengah kerumunan tengah bergoyang
dengan gaya tak lazim mengikuti dentuman irama yang terdengar lamat-lamat. Aku jadi
teringat candaan Wahyu jika sedang menirukan gaya tarian aneh seperti itu di rumah
kontrakan kami. “Iki aku iso tari kejang juga, Mas,” teriaknya setiap kali saat bergoyang.
“Kamu masih butuh uang untuk pengobatan ibumu, Yu? Aku bisa bantu kok,” kataku sambil
menggamit pergelangan tangan kanannya yang bergambar tato sekuntum bunga mawar kecil
dengan tinta kehijauan. Di bawah tangkai bunga, tertera huruf “D”, inisial ibunya yang
bernama Dewi.

Wahyu menarik tangannya sambil memalingkan wajah dariku. Reaksi biasa yang ia berikan
setiap kali aku memperlihatkan kemesraan di tempat umum. Kepalanya menggeleng sambil
bibirnya mengucapkan terima kasih. Dia bersikeras tak ingin terus merepotkan. Alasan yang
selalu diberikannya setiap kali aku menawarkan bantuan.
“Dulu, aku pikir kalau aku pergi ke Jakarta, aku iso dadi wong bebas. Aku iso bebas dari
masa lalu. Nyatanya, aku salah,” ucap Wahyu sambil menatap kosong ke arah luar rumah
makan.
Rasa kagum terasa membuncah saat mengamati sosok laki-laki berkuncir di hadapanku itu.
Wahyu bukan lagi remaja belasan tahun yang menjadi kondektur sebuah metromini saat kami
bertemu setahun lalu. Dia sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa.
Tiba-tiba terdengar suara pelayan lain yang memanggil nama Wahyu. Ia pamit padaku untuk
kembali mengantarkan pesanan pelanggan.
***
Melodi pembuka Selangkah Ke Seberang menghentikan gerak jemari Heru di atas mesin
ketik. Pandangannya melambung jauh ke luar jendela. Ingatannya melayang kembali pada
setiap minggu sore ketika ia dan Wahyu kerap menikmati waktu bersama. Tak jarang mereka
bangkit dan berjoget bersama ketika lagu itu berkumandang. Lagu-lagu Fariz RM yang sudah
lama dikagumi Heru akhirnya juga menjadi kesukaan Wahyu. Musiknya bebas betul, Mas,
begitu katanya di awal perkenalan dengan kaset-kaset album musisi favorit Heru itu.
Sosok Wahyu selalu mengingatkan Heru pada dirinya sendiri ketika masih belia. Ia terkenang
kembali ketika pertama kali datang ke ibukota demi melanjutkan studinya di Fakultas Sastra
sebuah universitas ternama. Kegemaran terhadap berbagai dongeng yang dikisahkan ibunya
sejak kecil menyulut impian menjadi seorang penulis. Namun, cita-citanya itu perlahan-lahan
terlupakan karena kesibukan sehari-hari. Selepas studi, Heru juga terperangkap dalam dunia
jurnalistik yang menuntut kecepatan dan ketepatan. Ia perlahan-lahan melupakan imajinasi
liar dan harapan menciptakan karya fiksinya sendiri.

Ketika Wahyu datang ke dalam kehidupannya, ia kembali teringat impiannya yang sudah
lama terkubur. Beragam kisah kehidupan laki-laki kurus dengan panjang rambut sebahu itu
menyalakan kembali pijaran imajinasinya. Heru kembali teringat bagaimana ia terpukau saat
mendengar tentang kejahatan yang pernah dilakukannya saat masih bergabung dalam
kelompok preman di Yogyakarta. Ia bahkan pernah membayangkan untuk menuliskan kisah

perjalanan Wahyu ke Jakarta dalam bentuk novel pendek. Belum lagi soal kehidupannya
selama setahun menempati penjara yang penuh dengan banyak peristiwa menarik.
Berbeda dengan dirinya, Wahyu sendiri datang ke Jakarta hanya dengan cita-cita yang
sederhana. Aku ndak mau jadi seperti bapakku, Mas, ungkapnya kepada Heru pada suatu
hari. Ayah Wahyu adalah seorang preman yang terkenal di kampungnya di Yogyakarta. Tak
hanya suka mengambil pungutan liar, ayahnya juga dikenal sebagai tukang pukul yang tak
ragu membunuh korban sasaran orang yang mempekerjakannya. Salah satu kejahatan yang
bahkan tak pernah bisa dimaafkan oleh anaknya sendiri adalah penculikan sang ibu. Ketika
ibunya masih remaja, preman itu menculiknya hingga kemudian hamil dan akhirnya
melahirkan Wahyu. Begitu besar pengaruh laki-laki berusia kepala empat itu hingga tak ada
satu pun penduduk yang berani mempersoalkan kejahatan itu. Meskipun tak pernah menikahi
ibunya, preman brengsek itu tak pernah lupa mengirimkan uang untuk biaya hidup mereka
berdua.
Ketika berusia 13 tahun, Wahyu baru mengetahui cerita tentang kemalangan ibunya dan
berencana membalaskan dendam. Sayangnya, ia harus kecewa karena nasib
mengkhianatinya. Preman biadab itu mati tanpa sebab yang jelas seminggu setelah Wahyu
mulai mencari keberadaannya. Mayatnya yang tertembus beberapa butir peluru ditemukan
dalam sebuah karung yang tergeletak di pinggir sungai dekat kampung tempat tinggal
Wahyu.
Tiba-tiba pintu kamar yang berada di belakang meja kerjanya terbuka. Heru yang hanya
seorang diri di ruang tengah merasa terkejut dan langsung bangkit menghampirinya. Ia amati
sekilas keadaan kamar yang kosong dan kemudian menutup kembali pintu. Apa mungkin ini
pertanda Wahyu tengah datang mengunjungiku? Sebuah pertanyaan ganjil muncul dalam
benaknya. Ia kemudian kembali menghampiri meja kerja. Aku harus menyelesaikan cerita
pendek ini untuk Wahyu, ucapnya dalam hati sambil kemudian mulai menggerakkan jemari
di atas tombol-tombol mesin ketik.
***
Suara pintu membuatku terjaga seketika. Terdengar kemudian suara langkah yang disusul
derit lemari yang membuka. Berbekal berkas cahaya yang menembus dari balik jendela, aku
mengamati sosok Wahyu yang mengambil tempat untuk berbaring di sampingku. Ini sudah
tiga kali dalam sebulan dia pulang larut malam tanpa ada kabar.
“Dari mana saja kamu, Yu?”
“Maaf, Mas. Aku tadi pergi sama temanku,” jawab Wahyu yang tengah berbaring
memunggungiku. “Kamu pergi sama Suyanto? Dari mana kamu?”
Suaraku langsung meninggi. Seperti biasanya, ia hanya bisa diam saat menghadapi sikap
temperamentalku. Meskipun besar di jalanan dan pernah masuk penjara, Wahyu
sesungguhnya laki-laki berperangai lembut. Dari setiap cerita yang pernah disampaikan, aku
bisa menilai bahwa dia hanyalah korban dari situasi yang tidak menguntungkan.
“Aku enggak mau kamu kembali ke kehidupan lamamu. Kamu tahu sendiri, ada petrus di
mana-mana. Preman dibunuh satu-persatu.”

Tak ada sahutan darinya. Selama beberapa saat aku hanya bisa mendengar dengusan napas
yang tak beraturan. Tak lama setelah aku dekap tubuhnya dari belakang, Wahyu kembali
bersuara.
“Aku ndak punya pilihan, Mas. Aku harus kirim uang untuk biaya pengobatan ibu. Oh ya,
uang untuk tambahan bayar kontrakan sudah aku simpan dalam laci lemari.”
“Kamu dapat uang dari mana, Yu?”
Aku tak bisa lagi menahan emosi. Dugaanku sepertinya benar-benar menjadi kenyataan.
Wahyu pasti ikut serta dalam aksi kejahatan yang dikomando Suyanto. Uang lebih yang ia
dapatkan itu menjadi salah satu bukti. Beberapa kali kulayangkan kembali pertanyaan tentang
sumber uang, ia tetap bungkam. Hingga akhirnya ketika aku sudah merasa lelah karena emosi
yang semakin memuncak, tiba-tiba dia kembali bersuara, “Mas, jangan khawatir. Mas kan
tahu, ada yang terus melindungiku.”
Wahyu lagi-lagi menyampaikan cerita yang sudah pernah beberapa kali kudengar. Cerita tak
masuk akal yang selalu diceritakan sang ibu kepadanya sejak ia masih kanak-kanak. Pada
suatu ketika, ibunya yang masih belia sempat diculik oleh sesosok Genderuwo. Setelah
hilang selama tujuh malam, Dewi akhirnya kembali lagi ke rumah orang tuanya. Ia tak bisa
mengingat apa yang sudah terjadi pada saat dirinya menghilang. Namun, orang-orang di
sekitar Dewi menyadari keanehan pada sikapnya setelah ia kembali. Dewi sering berbicara
sendiri. Hanya orang-orang berkeahlian khusus yang bisa tahu bahwa Genderuwo si penculik
masih saja mengikutinya. Bahkan hingga akhirnya Dewi menikah, Genderuwo itu masih
terus mengikutinya. Beberapa minggu sebelum kelahiran Wahyu, Genderuwo itu berpamitan
kepadanya karena di masa mendatang dia harus menjaga anaknya. Ketika ditanya di mana
anaknya sekarang berada, Genderuwo itu hanya menunjuk perut Dewi yang membusung dan
tiba-tiba menghilang.
Aku sudah hafal alur cerita yang sudah beberapa kali dikisahkannya itu. Aku hanya ingin
menikmati suara lembut Wahyu yang tak pernah gagal membuatku merasa nyaman. Mataku
terasa semakin berat, perlahan-lahan kesadaranku menguap.
***
Tidurku tak bisa nyenyak selama tiga malam Wahyu menghilang tanpa kabar. Tak ada yang
tahu ke mana ia pergi. Atasannya di Rumah Makan Surya pun mengeluh karena harus
kekurangan tenaga kerja. Pada hari pertama kepergiannya, aku menduga Wahyu pulang ke
Yogyakarta untuk menengok ibunya. Setelah kuperiksa lemari, baju-bajunya masih tersimpan
rapi. Ia pergi hanya dengan sebuah tas ransel yang biasa dipakai sehari-hari.
Selain Suyanto dan rekan kerjanya di rumah makan, setahuku Wahyu tak punya teman dekat
di Jakarta. Ketika kutanya rekan kerjanya satu-persatu, tak ada yang tahu di mana keberadaan
Wahyu. Sialnya aku tak tahu tempat tinggal Suyanto, jadi tak bisa bertanya kepadanya.
Selama beberapa hari ini, kepalaku terasa pening akibat kurang tidur. Apalagi mimpi buruk
semalam yang membuat aku harus terjaga sebelum pagi tiba. Dalam mimpi itu, aku dan
Wahyu terlihat duduk berdua di ruang tengah sambil menonton televisi. Kami tidak
berbicara, hanya duduk bersebelahan sambil menonton tayangan berita. Yang membuat
mimpi itu terasa ganjil adalah penampilan Wahyu yang tampak berbeda. Pada wajah dan

beberapa bagian tubuhnya terlihat bulu-bulu hitam yang lebat. Saat aku mengamati keanehan
pada dirinya, tiba-tiba pandangan kami saling bertemu. Bola matanya yang berkilau
kemerahan tampak begitu mengerikan.
Terminal Blok M pagi itu terlihat ramai seperti biasa. Beragam bus dengan warna-warna
cerah berderet mengisi jalur-jalur yang terpisahkan pagar besi. Antrean calon penumpang
tampak padat mengisi jalur tempat aku berada. Di jalur lain, antrean sudah mulai berkurang
bersamaan laju perlahan sebuah kopaja ke arah luar terminal. Tiba-tiba terdengar suara jeritan
dari sudut lain terminal. Tak lama kemudian tampak orang-orang datang mengerubungi sisi
pada jalur yang agak berjauhan dari tempat aku tengah berdiri. Suasana sekitar situ terasa
gaduh dengan ramainya kerumunan dan jeritan suara yang terdengar bersusulan. Antrean di
depanku mulai berkurang karena sebagian calon penumpang bergegas menuju titik keramaian
tersebut. Tiba-tiba aku melihat seseorang mirip Suyanto yang melintas di jalur bus lain.
Laki-laki itu berlari cepat ke arah kerumunan yang mulai gaduh. Kakiku tiba-tiba langsung
bergerak mengikutinya.
Ketika berada dekat dengan kerumunan, aku bisa mendengar sekilas komentar orang-orang
yang ada di sekitar. Ada sebuah karung goni berisi mayat seorang laki-laki. Meskipun hampir
tergoda untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi dalam kerumunan itu, aku memutuskan
terus mengejar sosok Suyanto yang tengah menyeruak dalam kerumunan. Tiba-tiba laki-laki
itu bergerak cepat ke arah sebaliknya. Kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Dugaanku benar, laki-laki itu adalah Suyanto. Aku langsung berteriak memanggil namanya.
Laki-laki itu menoleh. Kami saling berpandangan selama beberapa detik. Ia kemudian
langsung mempercepat gerakannya untuk menjauh dari jangkauanku. Setelah akhirnya
berada di luar kerumunan, sosok Suyanto sudah begitu jauh. Usahaku akan menjadi sia-sia
jika terus bergerak mengejarnya.
Akhirnya aku putuskan kembali masuk dalam kerumunan. Perlahan-lahan aku terobos lapis
demi lapis kumpulan orang yang semakin padat. Hingga akhirnya aku berada di dekat lapis
pertama. Aku bisa melihat karung yang sudah menarik perhatian banyak orang itu. Sebuah
karung goni berukuran besar warna cokelat yang lapisan luarnya terlihat begitu kotor. Di
dekat ujung atas yang setengah terbuka, sepotong tangan tampak terjulur keluar. Setelah
berhasil menerobos lapisan pertama dan berada di dekat karung, aku bisa mengamatinya
lebih jelas. Perhatianku tertuju pada gambar yang ada pada permukaan luar tangan. Tato
setangkai Bunga mawar berwarna kehijauan. Tepat di bawah tangkainya, terdapat huruf “D”.


* **
Setelah selesai menuliskan alamat keluarga Wahyu di Yogyakarta, ia letakkan kembali
lembaran wesel pada samping meja kerjanya. Meskipun kompensasi dari publikasi cerita
pendeknya itu tidak banyak, ia berharap sejumlah uang itu bisa meringankan beban hidup
mereka. Pandangan Heru kemudian tertuju pada halaman koran yang memuat cerita pendek
karyanya, Sepotong Tangan Bertato Bunga Mawar Yang Terjulur Dari Dalam Karung.

Setelah sekian lama berkutat menulis berita, ia merasa lega bisa kembali menuangkan
imajinasinya dalam bentuk fiksi. Setidaknya, dia tidak perlu lagi berhadapan dengan
kemunafikan Bang Manurung sang editor atau pimpinan redaksi di kantornya dulu.
Ketika memutuskan berhenti dari posisinya sebagai reporter senior, Heru ingin bersantai
sejenak dengan melakukan hal-hal yang disukainya. Ia banyak menghabiskan waktu untuk
mengasah kembali kemampuannya menulis cerita. Fiksi bisa jadi salah satu caranya
mengungkapkan kebenaran, begitu pikirnya ketika berada di depan mesin ketik pada sebuah
sore. Dan seperti sore-sore sebelumnya selama tiga bulan terakhir, Heru duduk berhadapan
dengan mesin ketik. Jemarinya bergerak dengan lincah menuliskan imajinasi yang terlintas
dalam kepala.

***

 

Ilustrasi cerpen oleh Dwi Setu Aji (biasa disapa dengan Jasno), siswa Kelas Ilustrasi Shortcourse Gudskul #4 yang berdomisili di Jakarta. Ia belajar gambar secara otodidak dan kini bekerja sebagai desainer grafis di salah satu perusahan advertising di Jakarta. Terkadang, ia juga bekerja sebagai freelancer ilustrasi, komik, cetak sablon, cukil kayu, dan mural. Bisa ditemui di ig: @jasnothing