Ketika Gudskul Kembali Ramai bersama Makmur and Friends

Dalam dua tahun terakhir, jumlah orang muda yang datang ke Gudskul semakin meningkat. Gelombang baru ini tidak lepas dari peran Makmur Djaja, sekelompok mahasiswa dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang nekat menyewa salah satu studio di Gudside sejak Agustus 2023. Tak lama kemudian, mereka mengadakan open studio untuk memperkenalkan diri kepada ekosistem Gudskul. Malam pembukaan itu ternyata dipenuhi oleh teman-teman mahasiswa. Sejak saat itu, kehadiran orang muda di Gudskul semakin terasa, meski masih berlangsung secara berkala pada momen-momen tertentu.

Keputusan mereka untuk menyewa studio di Gudskul berangkat dari keinginan mencari ruang belajar yang lebih terbuka. Bagi mereka, kampus sudah tidak lagi menjadi tempat yang asik, dengan rutinitas akademik yang sering menekankan “kebenaran” dan “kecantikan” dalam karya. Gudskul mereka anggap sebagai ruang alternatif yang dapat meningkatkan imajinasi, tempat di mana kesalahan dan karya yang “jelek” pun tetap memiliki nilai dan makna.

Selain membuka studio di Gudside, Makmur Djaja juga memulai keterlibatan mereka dengan mengikuti Gudskul Studi Kolektif Batch 6 (2024–2026). Perlahan, mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan di dalamnya, dengan menggerakkan berbagai program seperti Jakarta 32°C, OK. Video Get.raw, Ruru Radio Lounge hingga terlibat dalam kerja-kerja artistik dan hiburan Gudskul.

Dalam proses Gudskul Studi Kolektif, sebagai peserta yang berasal dari Jakarta, Makmur Djaja secara alami berperan sebagai pendamping bagi peserta dari luar kota. Mereka menjadi penghubung antara peserta dengan ekosistem Gudskul maupun ekosistem kota Jakarta yang lebih luas. Kehadiran Makmur Djaja menjadi katalis dalam menjaga kekompakan para peserta, meski sebagian besar peserta Batch 6 berasal dari kolektif yang lebih mapan dan anggotanya beberapa tahun lebih tua daripada anggota Makmur Djaja. 

Kehadiran Makmur Djaja juga mengaktifkan kembali program Jakarta 32°C, sebuah forum mahasiswa se-Jakarta. Momentum kebangkitan program ini bersamaan dengan Pekan Kebudayaan Nasional 2023, di mana sebagai mahasiswa, mereka diminta untuk menjadi penggerak utama Jakarta 32°C melalui inisiatif Tarkam AKAP. Dengan menjembatani mahasiswa dari berbagai kampus, jaringan pertemanan Makmur Djaja pun semakin meluas, dan mereka menamainya Makmur and Friends.

Gudskul menjadi tempat kumpul forum mahasiswa Jakarta 32°C, dan studio Makmur Djaja menjadi ruang singgah 24 jam bagi para mahasiswa, sebelum mereka merasa cukup nyaman untuk mengakses ekosistem Gudskul secara langsung. Kebanyakan dari mereka, studio ini menjadi titik awal pertemuan, tempat beradaptasi, dan langkah pertama untuk mengenal lebih dekat dan terlibat dalam kegiatan lainnya di Gudskul. 

Kegiatan yang dimaksud, bukan hanya berasal dari program reguler Gudskul, namun juga kegiatan yang bersifat inisiatif dan responsif. Seperti pameran poster virtual “Peringatan Darurat” yang merupakan respon dari aksi massa pada tahun 2024 lalu, dan kembali diadakan seiring aksi massa yang berlanjut di tahun 2025 ini dengan tagar Reset Indonesia 2025. “Peringatan Darurat” ini dinaungi oleh OK. Video Get.raw dengan turut menampilkan pertunjukan multimedia. 

Selain itu, melalui kegiatan seperti “Nongkrong dan Book Club”, mereka mengajak teman-teman sebaya untuk membaca dan berdiskusi tentang isu-isu dunia, salah satunya mengenai Palestina. Dari situ, mereka tidak hanya belajar memahami situasi dunia, tetapi juga menumbuhkan empati dan kesadaran akan posisi mereka sebagai bagian dari generasi yang hidup dalam lanskap global yang terus berubah.

Sebelum kehadiran Makmur and Friends, Gudskul terkadang sepi karena para anggotanya sudah memiliki prioritas hidup yang beragam. Kehadiran mereka kemudian kembali meramaikan kehidupan sehari-hari Gudskul, namun kehadiran mereka bukan hanya menghidupkan kembali aktivitas fisik di Gudskul, tetapi juga menyalakan semangat regenerasi, mengingatkan bahwa ekosistem ini selalu tumbuh bersama generasi yang datang silih berganti.

 

Angga Wijaya

Koordinator subjek Gudskul Studi Kolektif