Antara Layar Gawai dan Ruang Nongkrong

Pada tahun 2018, Wiratama pergi ke Jakarta dari Medan untuk mengikuti Gudskul Studi Kolektif. Ia menjadi salah satu peserta yang lolos seleksi untuk tinggal dan belajar selama satu tahun. Sejak saat itu hingga kini, Wiratama menjadi bagian dari ekosistem Gudskul. Di ruang kolektif ini, ia kerap berperan sebagai harvester visual, memanen percakapan, diskusi, dan proses belajar menjadi graphic recording atau notulensi visual. Kemudian dia dikenal sebagai seniman yang secara konsisten membuat kartun opini di media sosial sebagai bentuk kritik visual terhadap isu-isu publik.

Membuat kartun opini menjadi rutinitas sehari-hari Wiratama, ia mengerjakannya secara digital, ide-idenya sering muncul dari topik yang sedang ramai di Twitter (sekarang X) dan Instagram. Tapi sebelum benar-benar ia gambar, biasanya ia memastikan dulu konteksnya agar jelas. Ia membaca beberapa sumber berita yang ia percaya, melihat bagaimana isu itu diberitakan, lalu menelusuri komentar-komentar netizen, mulai dari pola kemarahan yang berulang hingga celetukan lelucon yang paling receh.

Dalam mengolah isu menjadi visual, Wiratama menggunakan konsep “what if”. Bagaimana jika tokoh politik hadir dalam poster film populer? Bagaimana jika kebijakan publik diperlakukan seperti adegan sinetron? Ia menghubungkan isu dengan budaya pop seperti film, poster, dan meme, agar pembaca dapat mudah mengenali konteksnya. Hasilnya bukan sekedar gambar berita, namun reaksi terhadap berita itu sendiri. Wiratama merangkum keresahan netizen, kegelisahan publik, bahkan kelelahan bersama dalam satu frame.

Bagi Wiratama, menggambar adalah caranya mengeluh. Sebelumnya ia kerap mengeluh dalam format cuitan teks di Twitter, misuh-misuh melalui komentar, lalu berlalu begitu saja. Namun ketika keluhan itu berubah menjadi dalam bentuk gambar, ia menyadari telah mengumpulkan orang-orang dengan keresahan yang sama. Gambar menjadi tempat baru untuk beropini, menjadi ruang demokratis yang terbuka untuk diinterpretasikan dengan berbagai perspektif.

Tentu saja, ruang demokratis selalu diikuti oleh pro dan kontra. Di situlah terlihat betapa melelahkannya interaksi digital yang cepat, masif, dan tak terduga. Setiap detik ada komentar baru, tanggapan baru, kadang juga serangan baru. Lawan bicaranya tak terhitung jumlahnya. Diskusi bisa berubah menjadi debat panjang tanpa ujung. “Kalau diterusin terus bisa sakit kepala,” ujar Wiratama sambil tertawa.

Di titik inilah ruang fisik menjadi penting, dan Gudskul menjadi ruang keseharian yang lain bagi Wiratama. Beberapa kali dalam seminggu, ia datang ke sana. Selain untuk memenuhi jadwal pekerjaan atau rapat, ia terkadang datang hanya untuk nongkrong dan bertemu dengan teman-teman. Di sana, ritmenya berbeda. Tidak ada notifikasi yang memaksa respons cepat, tidak ada algoritma yang diam-diam memecah konsentrasi.

Obrolan di Gudskul bisa meloncat dari bercanda ke serius dalam satu waktu. Salah satu lingkar nongkrong yang ia ikuti adalah bersama Tim Aman, yang sebagian besar merupakan warga lokal. Wiratama tertarik pada cara mereka bercanda: jenaka, spontan, dan sering kali lahir dari situasi yang tidak mudah. Baginya, itu seperti cerminan yang lebih luas tentang masyarakat Indonesia dalam menghadapi persoalan lewat candaan. Dalam situasi seperti itu, ia lebih memilih tidak menuangkan opininya secara langsung sebagai bentuk aktivisme, seperti yang ia lakukan di ruang digital. Ia menyelipkannya lewat obrolan dan tawa yang dibagi bersama.

Nongkrong di Gudskul menjadi cara baginya memenuhi kebutuhan psikologis sekaligus bersosialisasi. Menurut Wiratama, Gudskul memiliki sumber daya, pengetahuan, dan jejaring yang ia butuhkan. Semuanya ada, mulai dari yang kritis di wilayah wacana hingga yang ahli dalam hal teknis. Terlepas dari segala dinamikanya, baginya Gudskul berhasil menjaga keseimbangan antara pertemanan dan profesionalitas. Selain itu, Gudskul memiliki atmosfer yang berbeda. Meski berada di Jakarta, ruang ini tidak berada di tengah hiruk pikuk kota dan kemacetan.

Di antara layar gawai yang terus bergerak dan ruang nongkrong yang lebih lambat, Wiratama menemukan jarak yang ia perlukan. Di satu sisi, ia tetap terlibat dalam arus opini publik yang cepat dan riuh. Di sisi lain, ia punya ruang di mana opini tidak selalu harus dijadikan unggahan.

 

oleh Angga Wijaya

Koordinator subjek Gudskul Studi Kolektif dan tetangganya Wiratama